KONSEP BERUBAH
LAPORAN PENDAHULUAN
KONSEP BERUBAH
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam
Menyelesaikan Stase Manajemen Keperawatan
Oleh :
SRI HERMAWATI
NIM.
4012170026
![]() |
STIKES BINA PUTERA BANJAR
PROGRAM STUDI PROFESI ILMU KEPERAWATAN
2017
A.
Sifat Proses Berubah.
Perubahan adalah proses dinamis
dimana yang terjadi pada tingkah laku dan fungsi seseorang, keluarga, kelompok
atau komunitas (Potter dan Perry, 2005).
Proses berubah juga dapat
diartikan sebagai proses beranjaknya seseorang dari keadaan status quo menjadi
keadaan keseimbangan semu. Status quo “Is a situation or state of
affairs as it is now, or as it was before a recent change” atau
keadaan dimana seseorang belum bergerak dari keadaan semula.
Keseimbangan semu adalah
keadaan yang dirasakan belum memadai dalam waktu tertentu.
Perubahan yang baik dapat
dijalani manusia bertahap dan memerlukan waktu sesuai dengan kemampuan manusia
itu sendiri. Sehingga perubahan yang terjadi secara radikal biasanya akan
menemui banyak hambatan.
B. Macam-macam Proses Berubah
1. Perubahan ditinjau dari
sifatnya, yaitu:
a. Perubahan spontan (Samson,
1971)
1) Perubahan sebagai respon
terhadap kejadian alamiah dan terkontrol/alamiah.
2) Perubahan yang terjadi tidak
diramalkan atau diprediksi sebelumnya.
3) Perkembangan,yaitu perubahan
yang berbentuk kemajuan / peningkatan / penambahan yang terjadi pada individu,
kelompok dan organisasi.
4) Perubahan yang direncakan yaitu
sebagai upaya yang bertujuan untuk mencapai tingkat yang lebih baik.
b. Perubahan ditinjau dari
keterlibatan:
1) Melalui penyedian informasi
yang cukup.
2) Adanya sikap positif terhadap
perubahn sesuatu atau inovasi.
3) Timbulnya komitmen diri untuk
berubah.
c. Perubahan ditinjau dari sifat
pengelolaan:
1) Menurut Duncan (1978)
a) Perubahan berencana.
(1) Menyesuaikan kegiatan sesuai
dengan tujuan yang akan dicapai.
(2) Adanya titik mula yang jelas
dan dipersiapkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
(3) Adanya persiapan yang matang.
b) Perubahan acak/kacau.
(1) Tidak ada titik awal perubahan.
(2) Tidak ada upaya mempersiapkan
kegiatan-kegiatan untuk tercapainya tujuan
2) HORSEY dan BLANCARD (1977)
a) Partisipati
Yaitu individu/klien diikutkan
dalam proses perubahan tersebut. Misalnya ketika bidan membangkitkan motivasi
klien.
b) Paksaan
Yaitu perubahan yang total
menggunakan kekuatan misalnya instruksi dari atasan.
C.
Teori-teori Perubahan.
1.
Teori Perubahan Lippit
Lippit ingin menunjukkan
langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengadakan pembaharuan.
Langkah-langkahnya meliputi:
a. Menentukan diagnosa terlebih
dahulu pada masalah yang ada
b.
Mengadakan penilaian terhadap motivasi dan
kemampuan dalam perubahan
c.
Melakukan penilaian terhadap motivasi
pasien/agen dan sumber daya.
d.
Memilih tujuan perubahan yang progresif
e.
Menetapkan peran dari pembaharuan sebagai agen
perubahan (pendidik, peneliti, pemimpin)
f.
Mempertahankan hasil dari perubahan yang telah
dicapainya
g.
Melakukan penghentian bantuan supaya harapan
peran dan tanggungjawab dapat tercapai secara bertahap
2.
Teori Perubahan Kurt Lewin
Teori perubahan Lewin
menjelaskan bahwa seseorang yang akan mengadakan suatu perubahan harus memiliki
konsep tentang perubahan yang tercantum agar proses perubahan tersebut terarah
dan mencapai tujuan yang ada. Ia berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan
(driving forces) akan berhadapan dengan penolakan (resistences) untuk
berubah. Perubahan dapat terjadi dengan memperkuat driving forcesdan
melemahkan resistences to change.
Tahapan perubahan menurut Lewin
antara lain :
a.
Unfreezing ( Tahap Pencairan )
Pada tahap awal ini, seseorang
mencari sesuatu yang baru baik dari sisi nilai, sikap maupun kepercayaan.
Seseorang dapat mengadakan proses perubahan jika memiliki motivasi yang kuat
untuk berubah dari keadaan semula.
b.
Changing ( Tahap Mengubah )
Pada tahap ini , Changing
merupakan langkah tindakan, baik memperkuat driving forces maupun
memperlemahresistances. Bisa dikatakan juga tahap menstabilkan norma-norma
yang sudah ada.
c.
Refreezing ( Tahap Pembekuan )
Pada tahap ini merupakan tahap
pembekuan di mana seseorang yang mengadakan perubahan telah mencapai tahapan
yang baru dengan keseimbangan yang baru.
d.
Action Research ( Tahap Penelitian Tindakan )
Tahap penelitian tindakan
menjelaskan bahwa hasil penelitian yang ada langsung diaplikasikan ke
kegiatan-kegiatan yang ada. Kemudian, lebih fokus menaruh penelitian terhadap
suatu tindakan yang berfokus pada masalah yang nyata. Penelitian itu
dikembangakan dari pengetahun atau teori dan logat yang dapat di ambil.
3.
Teori Perubahan Rogers E
Menurut Rogers E, perubahan
sosial adalah proses di mana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran
tertentu dari waktu ke waktu antara anggota suatu sistem social
Langkah-langkah untuk
mengadakan perubahan menurut Rogers antara lain:
a.
Tahap Awarenes
Tahap awal yang menyatakan
bahwa untuk mengadakan perubahan diperlukan adanya kesadaran untuk berubah.
b.
Tahap Interest
Tahap ini menyatakan untuk
mengadakan perubahan harus timbul perasaan suka / minat terhadap perubahan.
Timbulnya minat akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah.
c.
Tahap Evaluasi
Pada tahap ini terjadi
penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak ditemukan hambatan selama
mengadakan perubahan.
d.
Tahap Trial
Tahap ini merupakan tahap uji
coba terhadap hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui
hasilnya sesuai dengan situasi yang ada.
e.
Tahap adoption
Tahapan terakhir yaitu proses
perubahan terhadap sesuatu yang baru setelah ada uji coba dan merasakan ada
manfaatnya sehingga mampu mempertahankan hasil perubahan.
Rogers juga membagi karakter dari adopsi
yaitu:
a.
Relative advantage
b.
Compatibility
c.
Complexity
d.
Trialability
e.
Observability
Rogers dan sejumlah
ilmuwan komunikasi lainnya mengidentifikasi 5 kategori pengguna inovasi :
a.
Innovators
Adalah kelompok orang yang berani dan siap untuk mencoba
hal-hal baru. Hubungan sosial mereka cenderung lebih erat
dibanding kelompok sosial lainnya.
b.
Early Adopters
Kategori adopter seperti ini menghasilkan lebih
banyak opinidibanding kategori lainnya, serta selalu
mencari informasi tentang inovasi.
c.
Early Majorit
Kategori pengadopsi seperti ini
merupakan mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah
inovasi. Sebaliknya, mereka akan dengan berkompromi secara hati-hati sebelum
membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurun waktu yang
lama.
d.
Late Majority
Kelompok yang ini lebih
berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan
orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan.
e.
Laggards
Kelompok ini merupakan orang
yang terakhir melakukan adopsi inovasi. Mereka bersifat lebih tradisional, dan segan untuk mencoba hal
hal baru. Kelompok ini biasanya lebih suka bergaul dengan orang-orang yang
memiliki pemikiran sama dengan mereka.
D.
Tipe Perubahan.
Apabila dipandang dari tipe
perubahan, menurut bennis tahun 1995, perubahan itu sendiri memilki tujuh tipe
diantaranya :
1. Tipe indoktrinasi, suatu
peubahan yang dilakukan oleh sekelompok atau masyarakat yang menginginkan
pencapaiaan tujuan yang diharapkan dengan cara memberi doktrim atau menggunakan
kekuatan sepihak untuk dapat berubah.
2.
Tipe paksaan atau kekerasan, merupakan tipe
perubahan dengan melakukan pemaksaan atau kekerasan pada anggota atau seseorang
dengan harapan tujuan yang dicapai dapat terlaksana.
3.
Tipe teknokratik, merupakan tipe perubahan
dengan melibatkan kekuatan lain dalam mencapai tujuan yang diharapkan terdapat
satu pihak merumuskan tujuan dan pihak lain untuk membantu mencapai tujuannya.
4.
Tipe interaksional, merupakan perubahan dengan
menggunakan kekuatan kelompok yang saling berinteraksi satu dengan yang lain
dalm mencapai tujuan yang diharapkan dari perubahan.
5.
Tipe sosialisasi, merupakan suatu perubahan
dalam mencapai tujuan dengan menggunakan kerja sama dengan kelompok lain tetapi
masih menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.
6.
Tipe emultif, merupakan suatu perubahan dengan
menggunakan kekuataan unilateral dengan tidak merrumuskan tujuan terlebih
dahulu secara sungguh sungguh, perubahan ini dapat dilakukan pada sistem
diorganisasi yang bawahannya berusaha menyamai pimpinan atau atasannya.
7.
Tipe alamiah, merupakan perubahan yang terjadi
akibat sesuatu yang tidak disengaja tetapi dalam merumuskan dilakukan secara
tidak sungguh, seperti kecelakaan, maka seseorang ingin mengadakan perubahan
untuk lebih berhati-hati dalam berkendaraan dan lain sebagainya.
E.
Proses Terjadinya Perubahan.
Suasana pelayanan kesehatan
pada tahun 1990an adalah suatu tantangan. Tekanan dari pemerintah, perusahaan
asuransi, serikat kerja, para pegawai, dan konsumen mengenai pelayanan
kesehatan, diarahkan kembali pada perawatan diri dan pencegahan. Teknologi
mengalami perubahan dan focus biaya perawatan perioperatif bergeser kea rah
yang lebih efektif pada situasi yang sama.
Keperawatan mempunyai
kesempatan baru untuk menjadi bagian dari perubahan, selama seluruh system
mengalami pergeseran biaya saat kualitas perawatan klien meningkat. Kreatifitas
dan tinjauan tekanan kekuatan eksternal yang luas akan memungkinkan perawat
melakukan perubahan.
Perubahan dapat dijabarkan
dengan beberapa cara, termasuk perubahan yang direncanakan atau yang tidak
direncanakan. Perubahan yang tidak direcanakan adalah perubahan yang terjadi
tanpa suatu persiapan, sebaliknya perubahan yang direncanakan adalah peribahan
yang direncanakan dan dipiikirkan sebelumnya, terjadinya dalam waktu yang lama,
dan termasuk adanya suatu tujuan yang jelas. Perubahan terencana lebih mudah
dikelola daripada perubahan yang terjadi pada perkembangan manusia atau tanpa
persiapan anat karena suatu ancaman. Untuk alasan tersebut, perawat harus dapat
mengelola perubahan.
Proses perencanaan terjadi
karena adanya perubahan yang sangat kompleks dan melibatkan interaksi banyak
orang, faktor, dan tekanan. Secara umum, perubahan terencana adalah suatu
proses di mana ada pendapat baru yang dikembangkan dan dikomunikasikan kepada
semua orang, walaupun akhirnya akan diterima atau ditolak. Perubahan
perencanaan, sebagaimana proses keperawatan, memerlukan suatu pemikiran yang
matang tentang keterlibatan individu atau kelompok. Penyelesaian masalah,
pengambilan keputusan, pemikiran kritis, pengkajian, dan efektivitas penggunaan
keterampilan interpersonal, termasuk kemampuan komunikasi, kolaborasi,
negosiasi, dan persuasi, adalah kunci dalam perencanaan perubahan.
Orang yang mengelola perubahan
harus mempunyai visi yang jelas di mana proses akan dilaksanakan dengan arah
yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Proses perubahan memerlukan
tahapan yang berurutan di mana orang akan terlibat dalam sebuah proses
perubahan dan arah perubahan yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu, koalisi
perlu dan harus dibentuk untuk mendukung perubahan.
Dalam literature yang lain
disebutkan bahwa proses terjadinya perubahan terdiri dari beberapa tahap
diantaranya :
1.
Mencairkan: melibatkan penghancuran cara
normal orang yang melakukan sesuatu-mmemutuskan pola,kebiasaan,dan rutinitas
sehingga orang siap untuk menerima alternatifbaru(hersey, Blanchard) atau
mengurangi kekuatan untuk mengurangi status quo, menciptakan kebutuhan akan
perubahan, meminimalisasi tantangan terhadap perubahan seperti memberikan masalah
proaktif.
Contoh
:Refresing,kegiatan_kegiatan baru.
2.
Memindahkan: mengembangkan perilaku, nilai dan
sikap yang baru.
3.
Membekukan kembali:akan terjadi jika prilaku
baru sudah menjadi bagian dari kepribadian seseorang.dengan cara memperkuat,
mengevaluasi, dan membuat modifikasi
F.
Motivasi Dalam Perubahan.
Motivasi itu timbul karena
tuntutan kebutuhan dasar manusia,sedangkan kebutuhan dasar manusia yang
dimaksud antara lain:
1. Kebutuhan fisiologis (makan,
minum, tidur, oksigen dll) berdasarkan kebutuhan tersebut maka manusia akan
selalu ingin mempertahankan hidupnya dengan jalan memenuhinya atau mengadakan
perubahan.
2.
Kebutuhan keamanan. Kebutuhan ini merupakan
kebutuhan manusia agar mendapatkan jaminan keamanan atau perlindungan dari
berbagai ancaman bahaya yang ada.
3.
Kebutuhan social. Kebutuhan ini mutlak
diperlukan karena manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari
orang lain.
4.
Kebutuhan penghargaan dan dihargai. Setiap
manusia selalu ingin mendapatkan penghargaan dimata masyarakat akan prestasi,
status, dan lain-lain. Untuk itu manusia akan termotivasi untuk mengadakan
perubahan.
5.
Kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan
perwujudan diri agar di akui masyarakat akan kemampuannya dan potensi yang
dimiliki.
6.
Kebutuhan interpersonal yang meliputi kebutuhan
untuk berkumpul bersama untuk melakukan control dalam mendapatkan pengaruh dari
lingkungan.
G.
Strategi Dalam Perubahan.
Dalam perubahan dibutuhkan cara
yang tepat agar tujuan dalam perubahan dan tercapai secara tepat, efektif dan
efisien, untuk itu dibutuhkan strategi khusus dalamperubahan diantaranya:
1.
Strategi Rasional Empirik
Strategi ini didasarkan karena
manusia sebagai komponen dalam perubahan memiliki sifat rasional untuk
kepentingan diri dalam berperilaku. Untuk mengadakan suatu perubahan strategi
rasional dan empirik yang didasarkan dari hasil penemuan atau riset untuk
diaplikasikan dalam perubahan manusia yang memiliki sifat rasional akan
menggunakan rasionalnya dalam menerima sebuah perubahan. Langkah dalam
perubahan atau kegiatan yang diinginkan dalam strategi rasional empirik ini
dapat melalui penelitian atau adanyadesiminasi melalui pendidikan secara umum
sehingga melalui desiminasi akan diketahui secara rasional bahwa perubahan yang
akan dilakukan benar-benar sesuai dengan rasional. Strategi ini juga
dilakukan pada penempatan sasaran yang sesuai dengan kemampuan dan keahlian
yang dimiliki sehingga semua perubahan akan menjadi efektif dan efisien, selain
itu juga menggunakan sistem analisis dalam pemecahan masalah yang ada.
2.
Strategi Redukatif normative
Strategi ini dilaksanakan
berdasarkan standar norma yang ada di masyarakat. Perubahan yang akan
dilaksanakan melihat nilai-nilai normatif yang ada di masyarakat sehingga tidak
akan menimbulkan permasalahan baru di masyarakat. Standar norma yang ada di
masyarakat ini di dukung dengan sikap dan sistem nilai individu yang ada di
masyarakat. Pendekatan ini dilaksanakan dengan mengadakan intervensi secara
langsung dalam penerapan teori-teori yang ada.Strategi ini dilaksanakan
dengan cara melibatkan individu, kelompok atau masyarakat dan proses penyusunan
rancangan untuk perubahan. Pelaku dalam perubahan harus memiliki kemampuan
dalam berkolaborasi dengan masyarakat. Kemampuan ilmu perilaku harus dimiliki
dalam pembaharu.
3.
Strategi Paksaan- Kekuatan
Dikatakan strategi
paksaan-kekuatan karena adanya penggunaan kekuatan atau kekuasaan yang
dilaksanakan secara paksa dengan menggunakan kekuatan moral dan kekuatan
politik.Strategi ini dapat dilaksanakan dalam perubahan sistem kenegaraan,
penerapan sistem pendidikan dan lain-lain.
Perubahan dalam organisasi
terdapat 3 tingkatan yang berbeda, yaitu: individu yang
bekerja di organisasi tersebut, perubahan struktur dan system hubungan
interpersonal. Strategi membuat perubahan dapat dikelompokan menjadi 4 hal, yakni:
a.
Memiliki visi yang jelas
Visi ini merupakan hal yang
sederhana dan utama, karena visi dapat mempengaruhi pandangan orang lain.
Misalnya visi J.F kennedy, “menempatkan seseorang dibulan sebelum akhir abad
ini.” Visi harus disusun secara jelas, ringkas, mudah, dipahami dan dapat
dilaksanakan oleh setiap orang.
b.
Menciptakan budaya organisasi tentang
nilai-nilai moral dan percaya kepada orang lain
Menciptakan iklim yang kondusif
dan rasa saling percaya adalah hal yang penting. Perubahan akan lebih baik jika
mereka percaya seseorang dengan kejujuran dan nilai-nilai yang diyakininya.
Orang akan berani mengambil suatu resiko terhadap perubahan, apabila mereka
dapat berpikir jernih dan tidak emosional dalam menghadapi perubahan. Setiap
perubahan harus diciptakan suasana keterbukaan, kejujuran, dan secara langsung.
c.
System komunikasi yang jelas, singkat dan
sesering mungkin
Komunikasi merupakan
unsur yang penting dalam perubahan. Setiap orang perlu dijelaskan tentang
perubahan untuk menghindari rumor atau informasi yang salah. Semakin banyak
orang yang mengetahui tentang keadaan, maka mereka akan semakin baik dan mampu
dalam memberikan pandangan ke depan dan mengurangi kecemasan serta ketakutan
terhadap perubahan. Menurut silber (1993), komunikasi satu arah tidak cukup dan
sering menimbulkan kebingungan karena orang tidak mengetahui apa yang akan
terjadi.
d.
Keterlibatan orang yang tepat
Perubahan perlu disusun oleh
orang-orang yang berkompeten. Begitu rencana sudah tersusun, maka segeralah
melibatkan orang lain pada setiap jabatan di organisasi, karena keterlibatan
akan berdampak terhadap dukungan dan advokasi (Endah, Rika. 2003).
H.
Model Dalam Perubahan.
Model dalam perubahan terbagi
menjadi 3 tahap :
1.
Research And Development Model (Model
Penelitian dan Pengembangan).
Model perubahan perubahan ini didasarkan atas penelitian dan perencanaan dalam pengembangan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam menggunakan model ini dapat dilakukan dengan cara melakukan identifikasi atas perubahan yang akan dilakukan dalam perubahan.
Model perubahan perubahan ini didasarkan atas penelitian dan perencanaan dalam pengembangan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam menggunakan model ini dapat dilakukan dengan cara melakukan identifikasi atas perubahan yang akan dilakukan dalam perubahan.
2.
Social Interaction Model (Model Interaksi
Sosial).
Model perubahan dengan
interaksi sosial ini dilakukan berdasarkan atas saling kerjasama dalam sistem
dengan memfokuskan pada persepsi dan respons dar perubahan Roger diantaranya,
menyadari akan perubahan, adanya minat dalam perubahan, melakukan evaluasi
tentang hal-hal yang akan dilakukan perubahan, melalui uji coba sesuatu hal
yang akan dilakukan perubahan serta menerima perubahan.
3.
Problem Solving Model (Model Penyelesaian
Masalah).
Model ini menekankan pada
penyelesaian masalah dengan menggunakan langkah mengidentifikasi kebutuhan yang
menjadi masalah, mendiagnosis masalah, menemukan cara penyelesaian masalah yag
akan digunakan, melakukan uji coba dan melakukan evaluasi dari hasil uji coba
untuk digunkan dalam perubahan.
I.
Hambatan Dalam
Perubahan.
Perubahan tidak selalu mudah
untuk dilaksanakan akan tetapi banyak hambatan yang akan diterimanya baik
hambatan dari luar maupun dari dalam diantaranya hal yang menjadi hambatan
dalam perubahan adalah sebagai berikut :
1.
Ancaman Kepentingan Pribadi.
Ancaman kepentingan pribadi ini
merupakan hambatan dalam perubahan karena adanya kekhawatiran adanya perubahan
segala kepentingan dan tujuan diri contohnya dalam melaksanakan standarisasi
perawat profesional dimana yang diakui sebagai profesi perawat minimal D III
Keperawatan, sehingga bagi lulusan SPK yang dahulu dan tidak ingin melanjutkan
pendidikan akan terancam bagi kepentingan dirinya sehingga hal tersebut dapat
menjadikan hambatan dalam perubahan.
2.
Persepsi yang Kurang Tepat.
Persepi yang kurang tepat atau
informasi yang belum jelas ini dapat menjadi kendala proses perubahan. Berbagai
informasi yang akan dilakukan dalam sistem perubahan jika tidak dikomunikasikan
dengan jelas atau informasinya kurang lengkap, maka tempat yang akan dijadikan
perubahan akan sulit menerimanya sehingga timbul kekhawatiran dari perubahan
tersebut
3.
Reaksi Psikologis.
Reaksi psikologis ini merupakan
faktor yang menjadi hambatan dalam perubahan karena setiap orang memiliki
reaksi psikologis yang berbeda dalam merespons perbedaan sistem adaptasi pada
setiap orang juga dapat menimbulkan reaksi psikologos yang berbeda sehingga
bisa menjadi hambatan dalam perubahan, contohnya bila akan dilakukan perubahan
dalam sistem praktek keperawatan mandiri bagi perawat. Jika perawat belum bisa
menerima secara psikologis, akan timbul kesulitan karena ada perasaan takut sebagai
dampak dari perubahan
4.
Toleransi terhadap Perubahan.
Toleransi terhadap ini
tergantung dari individu, kelompok atau masyarakat. Apabila individu, kelompok
atau masyarakat tersebut memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan,
maka akan memudahkan proses perubahan tetapi apabila toleransi seseorang
terhadap perubahan sangat rendah, maka perubahan tersebut akan sulit
diaksanakan.
5.
Kebiasaan.
Pada dasarnya seseorang akan
lebih senang pada sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya atau bahkan
dilaksanakan sebelumnya dibandingkan sesuatu yang baru dikenalnya, karena
keyakinan yang dilmiliki sangat kuat. Faktor kebiasaan ini yang menjadikan
hambatab dalam perubahan.
6.
Ketergantungan.
Ketergantungan merupakan
hambatan dalam proses perubahan karena ketergantungan menyebabkan seseorang
tidak dapat hidup secara mandiri dalam mencapai tujuan tertentu. Suatu
perubahan akan menjadi masalah bagi seseorang yang selalu menggantungkan diri
sehingga perubahan sulit dilakukan.
7.
Perasaan tidak Aman.
Perasaan tidak aman juga
merupakan faktor penghambat dalam perubahan karena adanya ketakutan terhadap
dampak dari perubahan yang juga akan menambah ketidakamanan pada diri, kelompok
atau masyarakat.
8.
Norma.
Norma merupakan segala aturan
yang didukung oleh anggota masyarakat dan tidak mudah dirubah. Apabila akan
mmengadakan proses perubahan namun perubahan perubahan tersebut akan menghadapi
hambatan. Sebaliknya jika norma tersebut sesuai dengan prinsip perubahan, maka
akan sangat mudah dalam perubahan.
J.
Perubahan Dalam Keperawatan.
Sebagai manusia kita hidup
dalam dunia perubahan. Perubahan merupakan suatu hal yang pasti (terjadi, dan
akan terjadi), hal mana sudah diketahui oleh manusia sejak zaman dahulu, yang
diungkapkan mereka melalui kata-kata “Pantai Rei” (bahasa Belanda: alles
verandert – bahasa Inggris: everything changes).Perubahan merupakan satu
kata yang memberikan makna bagi dinamika kehidupan manusia. Adakalanya
perubahan berdampak positif sesuai yang diharapkan. Akan tetapi biasa berdampak
negative atau tidak sesuai dengan yang diharapkan, bahkan tidak jarang
bertentangan dengan keinginan yang direncanakan dan merugikan (Nursalam. M.
2008).
Perubahan adalah respon
terencana atau tak terencana terhadap tekanan-tekanan dan desakan-desakan yang
ada. Manajemen Perubahan adalah upaya yang dilakukan untuk mengelola
akibat-akibat yang ditimbulkan karena terjadinya perubahan dalam organisasi. Perubahan
mempunyai manfaat bagi kelangsungan hidup suatu organisasi, tanpa adanya
perubahan maka dapat dipastikan bahwa usia organisasi tidak akan bertahan
lama. Perubahan dapat terjadi karena sebab-sebab yang berasal
dari dalam maupun dari luar organisasi tersebut.Manajemen perubahan adalah
aplikasi pengetahuan, kemampuan, alat dan teknik untuk menggabungkan
perubahan menjadi sebuah proyek dan atau menjadi sebuah strategi.
Perubahan dapat dijabarkan
dengan beberapa cara, termasuk perubahan yang direncanakan atau yang tidak
direncanakan. sebaliknya perubahan yang direncanakan adalah perubahan yang
direncanakan dan dipikirkan sebelumnya, terjadinya dalam waktu yang lama, dan
termasuk adanya suatu tujuan yang jelas. Perubahan terencana lebih mudah dikelola
daripada perubahan yang terjadi pada perkembangan manusia atau tanpa persiapan
anat karena suatu ancaman. Untuk alasan tersebut, perawat harus dapat mengelola
perubahan.
1.
Perubahan terencana.
Perubahan yang
direncanakan (planed change) adalah perubahan yang lebih
mudah dikelola dari pada perubahan yang tidak direncanakan, secara umum
perubahan terencana adalah suatu proses dimana adanya pendapat baru yang
dikembangkan, dikomunikasikan, kepada semua orang walaupun akhirnya akan
diterima atau ditolak. Orang yang mengelola perubahan harus mempunyai suatu
visi yang jelas dimana proses akan dilaksanakan dengan arah yang terbaik untuk
mencapai tujuan (Nursalam. M. 2008).
Menurut
Suyanto (2009), perubahan terencana adalah perubahan yang dirancang
dan diimplementasikan secara berurutan dan tepat waktu sebagai antisipasi dari
peristiwa di masa mendatang. Sedangkan perubahan reaktif adalah respons
bertahap terhadap peristiwa ketika muncul. Karena perubahan reaktif dilakukan
dengan cepat, maka potensi terjadinya perubahan cenderung menghasilkan akibat
yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, perubahan terencana lebih disukai
dibandingkan dengan perubahan reaktif(Suyanto. 2009).
2.
Perubahan tidak terencana.
Perubahan yang tidak
direncanakan (unplanned change) adalah perubahan yang terjadi tanpa
suatu persiapan. Determinan dari suatu perubahan tidak terencana dari
suatu organisasi antara lain karena adanya pergeseran dalam tampilan demografis
angkatan kerja, respons terhadap kecenderungan globalisasi, adanya peraturan pemerintah,
persaingan ekonomi, dan perbedaan kinerja (Suyanto. 2009).

Komentar
Posting Komentar